Pagi baru saja merayap di pinggiran Probolinggo saat Pak Ridwan (52) mulai mengayuh sepeda tuanya. Di keranjang belakang, tumpukan tempe bungkus daun pisang tertata rapi. Bau khas kedelai fermentasi menyeruak, beradu dengan aroma embun pagi yang dingin. Bagi Ridwan, tempe bukan sekadar lauk pengeruk rupiah, melainkan napas hidup yang sudah ia hembuskan selama tiga dekade.
Namun, beberapa bulan terakhir, senyum di wajah keriputnya kian redup. Lonjakan harga kedelai impor membuat margin keuntungannya tergerus habis. "Dulu kita bisa atur ukuran. Sekarang, kalau ukurannya diperkecil lagi, pembeli protest. Kalau harga dinaikkan, mereka lari ke lauk lain," ujarnya saat ditemui di Pasar Baru.
Dilema Ridwan adalah potret buram ribuan pengrajin tempe rumahan di Indonesia. Sebagai negara pengonsumsi tempe terbesar di dunia, ketergantungan Indonesia pada kedelai impor mencapai lebih dari 80 persen. Ketika pasokan global bergejolak atau nilai tukar mata uang melemah, piring masyarakat kelas bawah menjadi korban pertama yang merasakannya.
Di tingkat produsen, pilihan yang tersisa sangat tipis: memotong kualitas atau gulung tikar. Banyak pengrajin cilik memilih menyiasati keadaan dengan menipiskan irisan atau mencampur bahan baku, meski risiko kehilangan pelanggan setia selalu mengintai. Sementara itu, regulasi dan bantuan pemerintah kerap dinilai lambat merespons dinamika pasar di tingkat tapak.
Padahal, tempe bukan cuma komoditas ekonomi. Ia adalah simbol ketahanan pangan rakyat dan pilar gizi paling terjangkau bagi jutaan keluarga. Ketika akses terhadap protein hewani masih menjadi barang mahal bagi sebagian besar warga, tempe hadir sebagai juru selamat yang demokratis—tak memandang kasta sosial.
Di tengah gempuran ketidakpastian ekonomi, Ridwan dan rekan-rekan seprofesinya terus bertahan dengan sisa-sisa tenaga. Mereka tidak menuntut subsidi berlebih, melainkan kepastian harga dan ketersediaan bahan baku yang stabil. Saat matahari mulai meninggi dan keranjang sepedanya perlahan kosong, Ridwan mengusap keringat di dahi. "Selama orang masih butuh makan murah, saya akan tetap jualan," katanya mantap. Sebuah keteguhan kecil yang menyokong ketahanan pangan bangsa ini, saban hari.
Tags:
Warta

